UNIVERSITAS TARAKANITA WUJUDKAN KAMPUS BERDAMPAK MELALUI EDUKASI SEKOLAH INKLUSIF

Bekerjasama dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Strada Budi Luhur Bekasi, Universitas Tarakanita menyelenggarakan kegiatan yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat, khususnya para siswa sekolah melalui seminar bertajuk “Sekolah Inklusif, Amanah, dan Anti Perundungan”. Kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran siswa mengenai pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, serta bebas dari segala bentuk perundungan. Seminar diikuti oleh siswa-siswi SMK Strada Budi Luhur Bekasi kelas X yang baru saja masuk ke jenjang sekolah menengah.

Dalam kegiatan tersebut, Universitas Tarakanita menghadirkan dua dosen sebagai narasumber, yaitu Fredericka Krisma Setyatami, M.Pd. (dosen Program Studi Bisnis Digital) dan Maria Estri Wahyuningsih, M.Pd. (dosen Program Studi Sistem Informasi). Para narasumber yang juga tergabung dalam tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (PPKPT) Universitas Tarakanita menyampaikan materi yang menekankan pentingnya membangun budaya sekolah yang menghargai keberagaman, menjunjung nilai kemanusiaan, serta menolak segala bentuk perundungan.

Pada sesi awal kegiatan yang diadakan di aula SMK Strada Budi Luhur Bekasi ini, peserta diajak memahami makna Sekolah Inklusif, Amanah, dan Anti Perundungan sebagai komitmen bersama untuk menghadirkan lingkungan pendidikan yang memanusiakan setiap individu. Narasumber menegaskan bahwa pribadi yang cerdas, peduli, dan berkarakter tidak akan membiarkan tindakan kekerasan maupun perundungan terjadi di lingkungan sekolah.

Dokumentasi: Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Materi kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai pemahaman tentang komunitas yang aman. Narasumber menyampaikan bahwa komunitas yang aman merupakan lingkungan sekolah yang mampu memberikan rasa nyaman secara fisik maupun psikologis kepada seluruh warga sekolah. Para peserta diajak memahami bahwa terciptanya ruang yang aman membutuhkan kepedulian, rasa saling menghormati, integritas moral, serta tanggung jawab bersama dalam menjaga hubungan yang positif antarwarga sekolah.

Untuk lebih membuat peserta memahami makna sekolah inklusif, narasumber menjelaskan pengertian perundungan (bullying) sebagai tindakan menyakiti orang lain secara sengaja dan dilakukan berulang kali karena adanya ketidakseimbangan kekuatan. Para peserta seminar diperkenalkan pada berbagai bentuk perundungan, mulai dari perundungan fisik, verbal, nonverbal, hingga perundungan melalui media digital (cyberbullying). Melalui contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan remaja, peserta diajak mengenali bahwa setiap bentuk perundungan dapat memberikan dampak buruk terhadap kondisi psikologis, sosial, maupun proses belajar korban.

Dokumentasi: Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Selain memberikan pemahaman mengenai bahaya perundungan, narasumber juga menekankan bahwa nilai-nilai kasih, kepedulian, dan penghargaan terhadap sesama merupakan landasan utama dalam membangun budaya sekolah yang inklusif. Dengan menumbuhkan empati dan keberanian untuk saling mendukung, seluruh warga sekolah diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan kondusif bagi semua. Para siswa menunjukkan antusiasme tinggi selama kegiatan berlangsung melalui partisipasi aktif dalam diskusi dan sesi tanya jawab.

Untuk meningkatkan keterlibatan peserta, kegiatan juga diisi dengan permainan edukatif “The Step Forward” yang dipimpin oleh para mahasiswa Universitas Tarakanita yaitu Brigita Citra Putri Eka dan Valentina Laura Canting. Melalui permainan ini, siswa diajak merefleksikan berbagai situasi yang berkaitan dengan empati, keberanian mengambil sikap, serta pentingnya menghargai perbedaan. Aktivitas tersebut menjadi sarana bagi peserta untuk memahami bahwa setiap individu memiliki latar belakang dan pengalaman yang berbeda sehingga perlu diperlakukan secara adil dan penuh rasa hormat. Tentunya permainan edukcatif ini pun membawa nilai dan pesan yang sejalan dengan tema seminar.

Melalui kegiatan yang bersifat edukatif ini, Universitas Tarakanita berharap siswa SMK Strada Budi Luhur Bekasi semakin memahami pentingnya mencegah dan menghentikan perundungan, serta mampu menjadi agen perubahan yang membangun budaya saling menghargai, peduli, dan berkarakter di lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Dokumentasi : https://dppm.utarki.ac.id/gallery/pkm-di-smk-strada-budi-luhur/

Penulis: Brigita Citra Putri Eka A. (Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi) dan Valentina Laura Canting W. (Mahasiwa Program Studi Sekretari)

Penyunting: Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Universitas Tarakanita.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *